Thursday, November 10, 2016

Yang menarik dari Sorong Part #2

Pantai Tanjung Batu

Pantai Tanjung Batu masih satu wilayah dengan Pantai Tanjung Kasuari. Lokasinya persis diseberang kantor kelurahan saoka. Biaya masuk per orang 5ribu dan per mobil 20rb (kalo tidak salah ingat). Yang menarik dari pantai ini adalah ada bukit batu yang bisa dipanjat sekitar 5-6 meteran. Pemandangan cukup bagus bila datang di pagi ataupun sore hari, karena terik matahari membuat air pantai berwarna biru cerah, tentu saja spot ini menjadi lokasi foto yang menarik



Pulau Um (Pulau Kelelawar)
Pulau Um berada di kawasan Makbon, sorong timur. Bila menggunakan kendaraan seperti mobil atau motor akan menempuh sekitar 1-2 jam perjalanan, tergantung kondisi jalan bila musim hujan agak sedikit terhambat oleh kubangan lumpur. Nanti akan ketemu pantai tempat perahu untuk menyeberang menuju Pulau Um. Kapal hanya berukuran untuk 5-6 orang, jadi kami kemarin perlu 2x bolak balik karna jumlah kami 10 orang. Untung jarak pulau tsb cukup dekat yakni 7 menit menyebrang. Pulau ini dihuni banyak sekali kelelawar yang hinggap di pohon, jadi mesti hati2 juga apabila berada dibawah pohon supaya tidak kena eeknya hahaaha,, Pulau ini berukuran kecil jadi bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Pantainya lumayan bersih dengan pasir putihnya. Namun yang mesti diwaspadai adalah nyamuk agas yang banyak disini. Nyamuk ini nyaris tak terlihat, jadi mesti bawa anti nyamuk bila kesana. Gigitan nyamuk agas akan terasa gatal sekali bahkan akan terasa sampai seminggu, bentolnya juga cukup besar dibanding nyamuk biasa. Dan bekasnya akan hilang setelah tiga minggu, huffff…






Pulau Buaya
Pulau ini disebut pulau buaya karena bentuknya yang dari kejauhan tampak seperti buaya, jadi tentu saja gak ada buayanya. Perjalanan kesana cukup mudah tinggal naik kapal dari pelabuhan dom dan hanya 30 menit udah sampe sana. Pulaunya kecil jadi bisa juga dikelilingi dengan berjalan kaki. Air pantainya biru dan pasirnya putih. Namun sayang ada nyamuk agas disini, siap sedia anti nyamuk yah kalo kesini! Nah sebetulnya disini ada banana boat tapi pas kami datang kesana, boatnya lagi rusak, jadi yah kami hanya berenang sambil bermain pasir saja.




Air Terjun Asbaken, air terjun yang jatuh ke laut
Kami mengunjungi air terjun ini lumayan menegangkan karena gelombang laut cukup kencang ditambah hujan yang menyertai kami, beruntung bapak pemilik kapal cukup hebat untuk mengendalikan kapal. Kapal long boat yang kami tumpangi tidak memiliki atap jadi, semua basah kuyub. Lokasinya di Makbon, Sorong Selatan. Ada 2 jalur menuju air terjun ini. Yang pertama melalui distrik malowar dengan kendaraan lalu disambung naik kapal dan jalur trekking melewati hutan trus naik kapal. Kami memilih jalur kendaraan lewat distrik malowar mengingat rombongan kami ada yang membawa anak dan sedang hamil. Ada pos polisi di pinggir jalan dengan tulisan Distrik Malowar, langsung belok kiri dan terus ikuti jalan. Lalu berhenti di pantai yang saya lupa namanya, disana ada kapal untuk dinaiki.





Biaya kapal 800rb bisa untuk 10 orang. Perjalanan kurang lebih 1.5 jam, melewati Pulau Um. Setelah melalui perjalanan yang cukup menegangkan kami sampai di air terjun pertama, debit air tidak terlalu deras, namun tingginya kurang lebih 20 meter.





Kami tidak berhenti disana, karena tujuan kami adalah air terjun yang lebih pendek dan bisa untuk berenang. Kamipun lanjut lagi, kurang lebih 15 menit kami sampai juga. Air terjun yang jatuh ke laut, alirannya lebih deras namun tingginya hanya 3-4 meter. Namun sayang sekali gelombang yang tinggi tidak memungkinkan kami untuk bersandar, ditambah kekhawatiran keselamatan penumpang yang lagi hamil.




Jadilah kami lanjut lagi mencari pantai. Tak lama kami menemukan pantai, tidak ada penghuninya, dikelilingi pohon-pohon, serasa di film cast away hahaha.. gw kemudian berjalan menyusuri pantai, berharap menemukan sesuatu dan ketemulah goa kecil.



Kami hanya singgah sambil makan siang sebentar di pulau ini mengingat waktu sudah semakin siang yang berarti gelombang akan semakin kencang. Setelah berfoto kami pulang menuju makbon. Pemandangannya ruarrr biasa, sambil mengamati ternyata ada total 7 air terjun dan beberapa goa sepanjang perjalanan ini. Suatu saat mesti kesana lagi!


  Bapak nakhoda kapal




Danau Uther, Ayamaru
Perjalanan menuju kesini kurang lebih 4-5 jam dengan naik mobil. Dari klamono terus ke klamumuk dan terussss sampai ketemu bandara belok kiri. Canggih deh ada bandara di lokasi yang sangat jauh dari kota. Konon bandara ini dibuat oleh warga asli disana, karena sulitnya akses untuk menuju kesana terutama untuk logistik. Kami berhenti untuk bertanya mengenai lokasi danau, namun karena keterbatasan pengetahuan kami ternyata ada 2 danau yang bagus yaitu danau uther dan danau framu. Jadi kami hanya bilang danau saja tanpa menyebut danau apa haha.. Setelah sedikit hopeless karena makin ga tau lokasi persisnya, tampak oleh mata saya air kehijauan. Kami berhenti memarkir mobil lalu menuruni bukit kecil, kemudian tampaklah danau berwarna kehijauan yang indah sekali. Ga banyak anak-anak dan pengunjung disana. Airnya tawar, bening dan terasa sejuk sekali. Dsini bisa berenang dan meloncat dari ketinggian2 meteran, cukup menguji nyali haha... Kalo ke tengah tampaknya cukup dalam.

Kurang lebih 45 menit kami disana kami memutuskan pulang karena hari sudah semakin sore. Wilayah ayamaru memiliki banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi, ada danau framu, air terjun, dll. Akan lebih baik menginap supaya bisa mendatangi spot2 lainnya. Saya paling suka perjalanan menuju kesini karena dikelilingi bukit pepohonan yang tinggi dan rimbun, sangat eksotis sekaligus menegangkan.




Kali Sembra
Kali Sembra terletak di teminabuan dangan waktu tempuh perjalanan hampir sama ke danau uther yaitu sekitar 4 jam dari sorong. Air kalinya berwarna hijau toska, bening dan dingin, namun karena waktu itu lagi hujan, jadi potonya sedikit gelap. Retribusi 20rb per orang. Perjalanan kesini juga sangat indah dikelilingi bukit pepohonan, tidak ada jaringan listrik apalagi sinyal, jadi tentunya sangat menarik buat saya. Berikut poto2nya





Sebetulnya saya ingin sekali tiap minggu menjelajahi setiap sudut Pulau Burung ini. Tapi sayangnya sulit sekali karena jalan darat antar wilayah belum ada alias masih berupa hutan. Mau ke jayapura atau manokwari mesti pakai pesawat, belum lagi kalau uda sampai kota terus nyambung ke kabupaten, yang ga bisa jalan darat harus pakai pesawat kecil, sudah pasti kocek mesti tebal, akan susah kalo solo trip. Tapi itulah istimewanya papua! I'm so in love with the people, culture and the land!



Thursday, January 28, 2016

Dead Alley's New album

Setelah 7 tahun akhirnya kami membuat album terbaru kami, dengan tajuk Minima Moralia yang sudah beredar dalam bentuk CD dan kaset tape. Kamipun melakukan tur beberapa kota di Pulau Jawa di tahun 2016 ini. Formasi terbaru kami yakni :
Lin : vokal
Roel : vokal
Ramsq : Bass
Angga : gitar
Riska : drum

Dengan tetap mempertahankan musik kami di jalur cepat namun sedikit lebih "tegas" dan lirik-lirik seputar women issue yang merupakan kegelisahan kami atas patriarki yang tak hanya merugikan kaum perempuan, tapi juga laki-laki,, sila mampir ke Page kami di Fan Page FB atau instagram

salah satu lagu kami yaitu "Mari Membajak" yang merupakan rearrangement dari album pertama kami bisa didengar di mari membajak at soundcloud

Untuk mendapatkan merch kami berupa CD, kaset, kaos, totebag, patch dan postcard bisa kontak ke :


Saturday, July 5, 2014

Akhirnya ke Raja Ampat jugakkk!!!

Finally gw ke raja ampat cuyy!! hahhaa!! agak lebay sih yaa tapi siapa sih yang ga pengen ke raja ampat yang merupakan salah satu destinasi impian para pemuja traveling dan alam bawah laut hehe.. Merasa sangat beruntung gw tinggal di kota yg merupakan pintu gerbang menuju raja ampat, yeapp kota sorong yg tinggal naik kapal cepat menuju kesana. 



Gw berangkat ke raja ampat tanggal 18 - 20 Oktober 2013 bareng my hubby menggunakan kapal bahari express pukul  14.00 siang melalui pelabuhan rakyat. Cukup bayar 120rb/org kita dapet tempat duduk di dek bisnis pake ac, lumayan enak kok seatnya empuk dan ada tv juga..



Setelah kurang lebih 2 jam kami sampai di Waisai (ibukota raja ampat). Karena kami datang pada saat diadakannya festival raja ampat, dermaga Waisai lumayan ramai dengan pengunjung dan petugas kepolisian. Kemudian kami naik ojek minta dianterin ke penginapan yg tarifnya murah dan dekat pantai waisai karena kami mau lihat festivalnya. Ga sampe 5 menit kami dianterin ke sebuah penginapan yg bernama Penginapan Marannu, tarifnya 250rb/mlm, ada kipas dan kamar mandi diluar. Berhubung kami males cari2 penginapan lagi, kamipun memutuskan menginap disana. 



Setelah meletakkan barang2 kami langsung berjalan kaki menuju pantai waisai tempat berlangsungnya festival raja ampat. Disana uda berkumpul para pejabat, panggung acara, tari2an, stan2 makanan, minuman dan kerajinan khas raja ampat. Foto2 sebentar, mendatangi stan2, trus lanjut makan malam disekitar pantai.










Gw memilih ke raja ampat tanggal tsb selain karna ada festival tapi juga ada tur ke raja ampat yg salah satu destinasinya mau ke Wayag, yang disebut2 ikonnya raja ampat. Tentunya gw ga mau ngelewatin kesempatan itu, soalnya kalo berdua doang ke wayag mahil bingitt coyy karna wayag itu jauh, butuh bbm banyak dan mesti sewa kapal juga. Trus gw langsung kontak orang turnya dan kami dibolehin nebeng ikut ke wayag. Gw lebih suka nebeng2 tur seperti ini karna bisa lebih hemat budjet dan lebih bebas nentuin mau kemana hehe.. Subuh2 kami uda siap2 menuju dermaga buat ketemu rombongan tur menuju wayag. sambil menunggu speedboat datang, gw foto2 sunrise yang indah ini.. 





Perjalanan ke wayag memakan waktu kurang lebih 4 jam, tapi pemandangan selama perjalanan emang kerennn abiss, banyak pulau karst/karang yg cantik...







Kami berhenti di desa apa ya namanya lupa,, untuk meminta izin ke puncak wayag yg saat itu sedang bermasalah dengan pihak pemda sehingga tidak bisa ke puncak wayag untuk sementara waktu. Sembari menunggu pihak tur (dan ada anggota polisi di rombongan ternyata) melobi warga sana, gw foto2 lahh yaa pastinyaa, ada hiu kecil juga lohhh tapi ga dapet fotonya hahaha.. Tapi pemandangan disini juga uda bagusss pisvnnnn..






Ga lama mereka kembali dan kamipun diizinkan menaiki puncak wayag dengan didampingi oleh beberapa org warga/petugas konservasi. Harusnya kita dapet pin sebagai pengganti tiket masuk ke raja ampat yang biasanya ditarif 500 ribu untuk turis lokal (berlaku selama satu tahun, jadi kalau mau kesana lagi dalam jangka setahun itu bisa gratis). Tapi karena saat itu sedang bermasalah kita mesti bayar 500rb per orang untuk izin naik ke wayag tapi ga dapat pin. Terus, sampailah kami di wayag, untuk sampai di puncaknya kami harus mendaki bukit karst yg kemiringannya lumayan bikin berkeringat. Meskipun gw sedang hamil 5 bulan ga menghalangi semangat gw buat sampai diatas karna gw yakin baby gw juga senang dengan perjalanan ini ^^ 




Kurang lebih 30 menit, kami sampai di puncak wayag, dan woowwww emang luar biasa bagusnyaaa, liat langsung aja lah yaaa fotonyaaa hehee...










Setelah puas foto2 kami berenang sebentar disana kemudian siap2 kembali ke waisai. Perjalanan pulang yg lumayan basah kuyub karna cipratan air dari belakang kapal yg cukup banyak hahaha.. Malamnya kami makan ikan bakar di sebuah warung makan. 
Hari ini kami kembali ke kota sorong naik kapal express jam 1 siang. Sebelumnya kami beli oleh2 dulu dan foto2 di tugu selamat datangnya waisai hehe..



Biaya Perjalanan :
Tiket kapal bahari express : 120rb, PP = 250rb
Penginapan @250rb/mlm = 500rb/2 org = 250rb
Sewa Kapal ke Wayag = 500rb
Pengganti pin raja ampat = 500rb
Total = Rp. 1.500.000 (belum termasuk makan dan oleh2 hehe)








Wednesday, November 20, 2013

Perjalanan ke Karimun Jawa

Hari 1
Lebaran tahun ini gw balik ke tangerang, pas banget si abang juga dapet dinas ke jakarta. Hidup di beberapa kota bikin gw kangen sama temen2 gw yang ada di Bandung dan Semarang sekaligus traveling lah ya tentunya. Saat meet up dengan Hera-sahabat gw dari Bandung, tercetus ide pengen ke Karimun Jawa, ternyata eh ternyata Hera pun berencana kesana bersama teman2 lain, jadilah gw ke Karimun Jawa (karjaw) dari Semarang, buat ketemu dulu sama temen2 disana dan Hera berangkat dari Bandung, kami janjian bertemu di pelabuhan Kartini di Jepara. Jam 7 pagi gw sampai di terminal Terboyo Semarang buat naik bis menuju Jepara. Perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam itu bikin gw sedikit dag dig dug karena Hera yang udah nyampe dari subuh bilang kalo tiket kapal express menuju karjaw jam 10.30 udah abis, yang paling mungkin naik kapal muria yang jam 9 pagi. Tapi untungnya, jam 9 kurang 10 menit gw udah sampe di terminal dan langsung dianterin ojek ke pelabuhan kartini oleh yang namanya mas agus, orang yang juga bantuin Hera buat info ke karjaw. Pas banget gw bisa naik kapal muria, jam 9 pas kapal berangkat, huffff. Kapal Muria ini punya pemerintah, menampung lebih banyak orang, tiket hanya 30 ribu, namun perjalanan yang memakan waktu 6 jam berbanding jauh dengan kapal swasta lain yang hanya 2,5 jam tapi menampung lebih sedikit penumpang. Alhasil yaa kita foto2 ama tidur2an di bangkunya hahaaa.
Setelah 6 jam lamanya, kami sampai juga di Karimun Jawa..





Kami lalu jalan kaki buat cari penginapan, setelah tanya2 dengan beberapa orang kami dapet homestay yang lumayan murah, satu kamarnya 75ribu per hari dan dibagi 3 orang jadi cuma 25 ribu/orang. Kebetulan banget orang yang kita tanya juga nawarin ikut nebeng turnya esok hari dengan biaya 120 ribu per orang, kita pun langsung minta no hpnya buat memudahkan komunikasi.
Kamipun mendatangi penginapan yang dimaksud. Lokasinya persis di depan toko souvenir yang berjejer rapi. Ada 4 kamar yang bisa dipilih, satu kamarnya berukuran 3x3m, spring bed, di ruang tamunya ada dispenser dan kamar mandi luarnya ada 2. Lumayan bagus kok dengan harga segitu hehe.. Setelah beberes dan mandi kami jalan2 sekitar alun-alun yang cukup ramai penjual makanan dan suvenir, tapi kami makan di Warung Ester yang lebih banyak variasi makanannya, murah dan enakk jugaa, hehe...
Ga lupa malam harinya ngecas hp dan powerbank karena listrik di pulau ini hanya ada di malam hari sampai pukul 6 pagi.

Hari 2
Kami memutuskan untuk ikut tur mas obet (yang kemarin nawarin kami ikut turnya). Jam 9 pagi kami berkumpul di dermaga dekat alun-alun dan mas obet nurunin harga dari 120 jadi 90 ribu/orang, lumayan, hehe.. Kami pun langsung berangkat pakai kapal kapasitas 15 orangan.

Spot pertama yang kami datangi adalah tempat penangkaran hiu di Pulau Menjangan Besar. Jadi hiu-hiu yang sudah “jinak” dibiarkan berenang dengan dibatasi pagar kayu disekelilingnya. Bagi yang mau uji nyali, bisa nyemplung ke dalem ntar bakal diputer2in sama hiu2 itu yang artinya kita sudah menjadi wilayah kekuasaan mereka. Selama tidak ada luka/darah dan gerakan mendadak, hiu2 itu ga bakal nyerang. Gw penasaran buat nyobain dan setelah berada di bawah beberapa saat, hiu2nya ga ada yang nyamperin, sempet heran juga sih, apa karena gw lagi hamil ya, hahaha... Tapi mas-mas penjaganya langsung kasih pancingan makanan deket gw berdiri baru deh tuh hiu2 nyamperin dan masnya bilang “tangannya ke atas mbak” berulang-ulang. Gw pikir tangan gw disuruh ke atas buat foto tapi ternyata supaya hiunya ga salah kira kalo jari gw tu makanan doi, eh busettt hahaha...

Terus disana bisa juga foto dan pegang ikan buntal dan penyu tapi ditarif 3 ribu/orang. Puas di tempat penangkaran hiu, kami lanjut ke spot snorkeling di tengah laut, tempatnya lumayan dalem sih dan setelah snorkeling sekitar 45 menit, kapal jalan kembali menuju Pulau Cemara.
Sampai di Pulau Cemara, selagi mereka menyiapkan makan siang, kami berjalan mengelilingi pantai, foto-foto, karena pasirnya putihhh dan aernya biru beningg plus minum air kelapa muda yang suegerrrr. 






Gak lama, makan siang siap disantap, menunya ikan bakar plus sambal kecap, sadappppp..
Setelah makan siang yang enak, kami lanjut snorkeling lagi di spot yang berbeda. Di spot yang kedua ini, lumayan dangkal dan kami pun foto-foto underwater dari mas2nya,  ikan2 dan terumbu karangnya masih bagus dan warna warni, indahh bangett..



Abis snorkeling, kapal lanjut ke Ujung Gelam, disana banyak warung-warung makanan, berupa gorengan, mi instan dan kelapa. Kami pun istirahat sebentar disana sambil ngemil dan jalan-jalan disekitarnya.
Pukul 5 sore kami kembali ke penginapan.





Hari 3
Tanggal 15 Agustus hari ini ada acara Lomban Kupatan, yaitu upacara pemberian sesaji ke tengah laut yang tiap tahun biasa diadakan oleh warga Jepara dan Karimun Jawa. Kami berencana ngeliat acara kupatan tersebut  yang berlokasi di Ujung Gelam, mulai jam 9 pagi. Dari jam 6 pagi kami udah bangun buat nyari motor yang bisa disewa untuk ke Ujung Gelam, karena jaraknya yang lumayan jauh kalo jalan kaki. Setelah beberapa menit mencari kami dapet tempat persewaan motor, tapi ga langsung dibooking karena niatnya masih jam 8an untuk berangkat, harga sewa motornya 75 ribu sampai pukul 6 sore. Setelah dapat info tersebut kami kembali ke penginapan. Eh pas jam 8 kami kembali kesana, motornya sudah habis disewa semua, kami pun mencari2 tempat persewaan lain, dan ga dapet juga. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Nirwana yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Sekitar 20 menit jalan kaki, kami sampai di Pantai Nirwana, namun ternyata pantai ini masuk kawasan resort sehingga ada tiket masuknya Rp. 12,500. Ternyata memang ada resort yang pemandangannya ke arah pantai. Di Pantai Nirwana gw ga ikut berenang, cuma tidur2an aja. Ga lama, kami berjalan mendaki batu-batu besar yang ada di dekat resort. Pemandangan dari sana malah lebih bagus loh ternyata..



Siangnya kami makan siang di Cafe Amore yang cozy karena ada bisa liat pemandangan dermaga, menunya juga lumayan terjangkau ditambah dekorasinya yang unik. Malamnya gw dapat telepon dari abang yang nanya gw dimana dengan nada cemas. Ternyata ada kecelakaan kapal tenggelam saat selesai melihat acara kupatan di karjaw. Gw lumayan shock juga dengernya mengingat kami ga jadi liat acara itu. Abis itu gw langsung browsing cari info mengenai berita itu, ternyata memang benar ada kecelakaan tapi bukan di karjaw melainkan di Pulau Panjang, Jepara. Menurut berita ada lebih dari 10 orang yang meninggal, kabarnya karena kapal kelebihan muatan penumpang, kami turut berduka cita untuk para korban.

Hari 4
Hari keempat gw berencana balik ke Semarang karena ada hal yang mesti gw lakuin di Tangerang, tapi karena ga dapat tiket kapal express ya jadinya gw mesti nginep sehari lagi di Karjaw. Sempet tanya2 juga ke mas obet apa ada tur lagi, tapi sayangnya cuaca kurang bagus jadi ga ada tur di hari ini.  Trus kami bertiga sewa motor buat jalan2 di sekitar pulau yang lumayan besar ini. Akhirnya kami pergi ke Ujung Gelam lagi, sampe sana kami menikmati tiduran di pinggir pantai, desiran angin dan suara air yang nyenengin bangettt, sambil ngemil dan minum es kelapa muda (lagi) hehehe... Menjelang sore penjaja warung pulang ke rumahnya dengan naik kapal kecil, pas banget udah mau sunset, foto2 lah yaaa..




Hari 5
Kami siap-siap untuk balik ke Jepara. Menurut info, kapal express ada yang jam 10 pagi, kami pun mendatangi kantor penjualan tiketnya. Sampai disana, sudah banyak orang yang juga menunggu loket dibuka. Tapi anehnya yang dibuka bukan dari pintu depan melainkan pintu samping, gw masuk ke dalem terus ikut daftarin nama kami bertiga untuk naik kapal. Setelah dicatat, petugasnya bilang kapal datang jam 2. Sambil menunggu, kami makan siang di warung dekat dermaga. Mendekati jam 2 kami balik ke dermaga, ternyata kapal express sudah datang dan kami pun mencari petugas untuk meminta tiket, tapi ternyata kami ga bisa dapat tiket karena lebih mendahulukan orang-orang tur dan yang dari kemarin ga dapat tiket pulang. Lumayan kesel juga  tapi ga cuma kami aja, orang2 lain yang tidak kebagian tiket juga kesel apalagi mereka yang sudah pesan tiket dan membayarnya via online jauh2 hari sebelumnya. Akhirnya kita mutusin buat naik kapal muria yang sudah jelas bisa didapatkan dan lebih banyak menampung penumpang hanya saja berangkatnya jam 11 malam.
Kamipun kembali ke penginapan. Sore harinya kami ke Jokotuo, sebuah bukit yang katanya bagus untuk liat pemandangan. Setelah jalan mendaki sekitar 15 menit, kami sampai di atas bukit Jokotuo. Disana ada bangkai paus gede dan tasbih raksasa.




Malamnya sambil nunggu kapal datang, kami beli oleh2 yang kebetulan ada beberapa toko souvenir berjejer yang terletak di depan penginapan. Jam 8an kami ke dermaga dan loket kapal muria sudah ramai orang ngantri tiket. Setelah beberapa menit ngantri, kita dapat tiket ekonomi dan langsung naik ke kapal. Kali ini kapal penuh sesak, dengan banyak orang yang tidur di bangku,padahal bangku tersebut bisa dipakai orang lain yang butuh duduk. Untunglah kami dapat tempat duduk di pojok depan jadi sewaktu2 bisa tidur di bawah, mengingat perjalanan yang sampai besok pagi.
Jam 6 pagi kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara trus langsung naik becak menuju terminal bis Jepara. Sebelumnya kami ngaso sebentar di mushola yang mana penjaganya adalah mas agus yang waktu itu nganterin gw dari terminal ke pelabuhan Kartini pas mau ke Karjaw. Trus kami ngisi perut di dekat terminal. Jam 7an kami pamit dan langsung naik bis ekonomi menuju Semarang.

Rincian Biaya :
Bis ekonomi Semarang-Jepara PP = Rp. 20.000
Ojek terminal-pelabuhan kartini = Rp. 15.000
Kapal KM. Muria PP = 60.000
Penginapan 75.000/hari : 3 orang = 25.000 x 4 hari = Rp. 100.000
Tur Menjangan, Cemara dan Ujung Gelam = RP. 90.000
Tiket masuk Pantai NIrwana = Rp. 12.500
Sewa motor = Rp. 75.000/ 3 orang = Rp. 25.000
Tiket masuk Jokotuo = Rp. 5.000
Makan dan jajan (dibulatkan) = Rp. 50.000 x 5 hari = Rp. 250.000

Total pengeluaran = Rp. 577.500 untuk 5 hari