Sunday, July 11, 2021

Perjalanan Menggapai Beasiswa Chevening, Part 1

Tahun 2020 lalu adalah kali kedua aku mencoba beasiswa Chevening. Setelah tahun 2019 gagal di tahap awal/esai (karna memang aku belum maksimal dalam pembuatan esainya) aku jadi lebih fokus melakukan riset mengenai pembuatan essay yang benar. Aku mulai banyak membaca tulisan di blog-blog yang bercerita pengalaman para kandidat yang berhasil meraih beasiswa dari kerajaan Inggris ini, baik dari dalam maupun luar negeri. Ada 4 esai yang harus kita tuliskan masing-masing max 500 kata; Leadership, Networking, Course dan Career Plan. Kesemuanya haruslah saling terkait dengan background bidang yang kita geluti saat ini. Aku sendiri kala itu bekerja di sebuah NGO yang fokus pada isu perempuan sehingga aku juga mulai merencanakan apa yang mau kutulis dalam esai yang sesuai dengan kerja-kerjaku. 

Aku pun ikut berbagai webinar seputar beasiswa. Lalu aku mulai menulis list persiapan apa saja yang harus dilakukan selain essay : 

1. Mencari surat referensi (2 orang)

2. Mencari daftar kampus yang cocok dengan bidangku

3. Mencari proofreader essay

4. Belajar bahasa inggris untuk tes IELTS

Untuk syarat bahasa inggris di tahun 2020, Chevening menghapus persyaratan IELTS namun kita tetap harus memenuhi persyaratan kampus (English Requirement) yang tiap kampus menuliskan nilai minimumnya di website masing-masing. Aku mengisi sebagian persyaratan di portal Chevening, yang bisa kita save dan isi lagi kemudian. 

5. Pengisian persyaratan di portal Chevening, yang bisa kita save dan isi lagi kemudian.  

Data yang diperlukan berupa KTP, pengalaman kerja/volunteer (minimal 2 tahun), upload ijazah dan transkrip (yang sudah ditranslate dalam bahasa inggris), dan paspor.

 

Surat Referensi 

Aku mulai mencari surat referensi dari dosen pembimbing dan atasan kerjaku. Awalnya agak ragu apakah dosen pembimbingku masih mengingatku, karna aku lulus tahun 2009. Akupun kesulitan mencari kontak beliau, untunglah salah satu teman kelasku dulu memberi info no telepon beliau stelah aku membuat status WA, makasih yaa Eka. Aku langsung menghubungi beliau via WA chat dan bersyukur sekali ibunya berkenan membuat surat referensi untukku, terima kasih banyak Bu Nonik. 


Mencari Kampus Tujuan

Chevening tidak mewajibkan kita harus sudah punya surat penerimaan kampus atau biasa disebut LOA (Letter of Acceptance), tapi aku berpikir lebih baik mencari dari awal agar nantinya tidak terburu-buru di akhir (bisa menyusul). Dalam website Chevening, ada fitur Course Finder untuk mencari kampus mana saja yang dibiayai oleh Chevening. Aku menemukan ada sekitar 70 course yang menawarkan jurusan yang aku minati. Setelah mengecek satu persatu website kampus, mulai dari syarat bahasa inggris, syarat IPK, syarat background studi S1, dan kesemuanya meminta surat referensi serta personal statement. Berrtambah lagi list yang harus kubuat yaitu personal statement. Lalu aku memantapkan untuk memilih 3 jurusan sebagaimana yang diminta Chevening, boleh 3 jurusan linier di kampus yang berbeda. Pilihanku saat itu adalah UCL, University of Leicester, dan Goldsmiths. Aku pun mulai mengisi form pendaftaran di website ketiga kampus itu. Setelah melihat laman UCL, jurusanku mensyaratkan biaya pendaftaran, jadi aku menunda mendaftar ke UCL. Sedangkan 2 kampus lainnya bisa mendaftar tanpa biaya alias gratis.


Membuat  Essay dan Mencari Mentor/Proofreader

Kebetulan banget, aku dapat floating period 3 bulan dari kantor, artinya aku dibolehkan istirahat sambil memikirkan nanti mau lanjut di kerjaan atau tidak. Aku memanfaatkan momen ini untuk benar-benar fokus membuat esai, karna esai adalah modal pertama kita lolos tahap awal Chevening. Aku mempelajari cara para alumni membuat esai, yaitu menggunakan metode STAR (Situation, Task, Action, Result). Aku menghabiskan 1 bulan membuat esai dan kemudian aku meminta ex direkturku untuk menjadi proofreader. Aku mendapat banyak masukan terkait esaiku, terima kasih Teteh. 

Selanjutnya, aku mengikuti sebuah seminar yang dibuat kak Dayu mengenai beasiswa Chevening, pembicaranya adalah Mbak Rina, alumni tahun 2015. Dalam webinar tersebut mbak Rina bilang, kalau dia adalah seorang Ibu, usia kepala 3, IPK pas-pasan, tapi berhasil tembus Chevening. Ia juga sudah beberapa kali gagal beasiswa termasuk chevening. Kata-kata beliau membuatku makin semangat karna aku sendiri seorang Ibu, kepala 3 dan IPK pas2an, gagal beasiswa juga beberapa kali hihi.. 

Lalu, aku berinisiatif menghubunginya via email untuk meminta bantuannya menjadi proofreader esaiku juga.  Alhamdulillah beliau bersedia dan cukup banyak memberi masukan. Entah berapa puluh kali aku membaca ulang esaiku, merubah narasi dan juga revisi sana-sini, akhirnya aku mantap menyelesaikan esai dan mengisinya ke dalam portal di akhir Oktober, mengingat kalau semakin mendekati deadline tanggal penutupan, web chevening padat, ini juga berdasarkan pengalamanku pas taun 2019 submitnya di hari terakhir deadline dan webnya lambat, jadi aku mengantisipasi daripada gagal submit karna traffic lebih baik submit beberapa hari sebelumnya. 

 

Membuat Personal Statement dan Dapat LOA

Aku bergabung di sebuah FB grup Chevening dari seluruh dunia. Dari situlah, aku banyak dapat informasi seputar pendaftaran kampus, pertanyaan interview, motivasi, dsb. Aku juga jadi bersemangat melihat banyak yang sudah mendapat LOA baik conditional ataupun unconditional. Kalau Conditional artinya masih ada persyaratan yang belum dipenuhi misalnya tes bahasa inggris. Kalau Unconditional artinya kita sudah diterima tanpa syarat apapun. Aku membuat personal statement sebagai syarat pendaftaran kampus yang merupakan rangkuman dari Essay Chevening, jadi aku tidak terlalu lama membuatnya. Aku mulai dari mendaftar ke University of Leicester dan Goldsmiths. Alhamdulillah dalam waktu seminggu Goldsmiths menerima aplikasiku dan berhasil dapat Conditional Letter, hanya  kurang tes bahasa inggris saja, yay!

Sebulan kemudian University of Leicester pun memberiku Conditional Letter, senang sekali rasanya bisa berhasil mendapatkan LOA, self rewarding banget!


Tes IELTS

Sebetulnya aku juga berencana melamar beasiswa lain, Stuned dari Belanda. Setelah aku ikut kursus 3 bulan persiapan IELTS dan berlatih setiap hari, aku mendaftar IELTS di sebuah institusi di wilayah Serpong, Tangerang Selatan. Sehari sebelumnya itu aku menginap di rumah mertuaku di wilayah Taman Cibodas dan di hari-H tes, rumah mertuaku kebanjiran. Air naik sampai lebih dari 1 meter, untunglah rumah mertuaku sudah ditinggikan karna pengalaman kebanjiran tahun sebelumnya. Tapi sayangnya jalanan depan rumah tetap tinggi. Kondisi itu membuatku bingung apakah aku tes IELTS atau tidak, mengingat deadline Stuned juga akan tutup sebentar lagi. Aku mengirim email untuk menanyakan apakah bisa jadwal tesku dirubah. Mereka menjawab bisa reschedule namun waktunya 2minggu kemudian. Duh, aku tidak punya pilihan, akhirnya aku nekat menerabas banjir dan tetap ikut tes. 

Aku sedikit terlambat namun aku diberi toleransi untuk tetap bisa ikut ujian. Setelah ambil foto dan sidik jari, aku langsung tes Speaking dengan seorang native speaker. Ruangannya tidak besar dan karena kondisi pandemi, kami harus menggunakan masker dan kami duduk dengan jarak sekitar 1.5 meter. Hal ini membuatku sedikit stres, karna aku tidak bisa begitu jelas mendengar pertanyaannya. Yang kuingat hanyalah pertanyaan mengenai beda selebriti jaman dulu dan sekarang dan tempat membaca favorit. 

Selesai tes Speaking, aku lanjut tes Listening, Reading dan Writing. Pada saat tes writing, aku izin buang air kecil ke toilet dan ternyata ini mengurangi waktu menulisku sehingga tidak begitu banyak kata yang kutulis meski sudah mencapai minimum words. Empat hari kemudian, hasil IELTS keluar. Aku menerima email dan membuka websitenya, hasilnya Overall 5.5 dengan nilai Listening, Writing and Speaking 5.5 sementara Reading 6. Aku cukup kecewa dengan hasilnya karena Stuned dan juga kampus UK mensyaratkan minimal 6.5 overall. 

Aku pun mengirim email apakah aku bisa mengulang kembali tes tanpa biaya mengingat kondisiku yang saat itu kebanjiran. Mereka menolak dan bilang kalau aku sendiri yang meminta untuk tetap tes, jadi mereka tidak bisa memberi toleransi apapun. Kita bisa mengajukan banding tapi bayar 1.6 juta dan bila hasil skor sama, maka uang akan hangus, namun bila hasil skornya meningkat, uang akan dikembalikan. Aku sudah membayar cukup mahal untuk IELTS dan sudah ga bisa lagi mengeluarkan uang, huhu.. aku terpaksa gagal mendaftar Stuned. Eh beberapa minggu kemudian, dapat info kalau beasiswa Stuned diperpanjang, makin galau, namun aku merasa harus benar-benar siap supaya ga rugi ngeluarin uang untuk IELTS lagi, 2.9 juta itu bukan nominal yang sedikit. Aku memutuskan hanya fokus di Chevening saat itu, padahal aku sudah dapat conditional letter dari salah satu kampus di Belanda, mungkin aku akan mencoba tahun depan lagi untuk Stuned.

 

(bersambung)



Sunday, October 14, 2018

My Fantastic Japan Trip, Part 2

Hari 4


Disneyland

Hari ini kami ke Disneyland, rencana bangun pagi tapi seperti biasa, selalu ingin di kasur hahaha.. kami naik kereta menuju Stasiun Maihama. Disana udah banyaakkkk orang memadati stasiun padahal hari Selasa, bro. Kami memilih jalan kaki aja menuju pintu masuk Disneyland. Tiket Disneyland saya beli lebih dahulu di HIS Travel Gancit supaya ga ngantri lagi buat beli tiket disana. 

Bagitu masuk, saya disambut patung Mickey mouse yang megah sekali, saya pun mencari petugas untuk meminta Map. Disneyland Jepang ini luas sekali dan terdapat 7 wilayah, sayapun sudah membuat list wahana mana saja yang wajib dimasuki. Saya juga sudah membaca trik2 masuk wahana favorit Disneyland, yaitu dengan ambil Fast Pass  yang ada di depan wahana. Pass ini sangat berguna karena dengan dapat tiket fast pass kita bisa masuk wahana tanpa antri. Caranya : stelah masukkan barcode kita akan dapat tiket yang menunjukkan kapan kita bisa masuk wahana tsb dan kapan kita bisa ambil fast pass berikutnya untuk wahana lain. Sayapun langsung cepet2 menuju wahana Monster Inc! Ride and Go seek. Oke dapat jam 2 siang, berarti saya bisa naik wahana lain sambil nunggu waktu ambil fast pass berikutnya. Dan jeng jeng, semua wahana antriiii panjanggg men! Mau tidak mau kami ngantri demi bisa nikmati wahana2 disneyland. 


Monster Inc! Ride and Go Seek

Jajan es krim bentuk mickey, mmm nyummy


Fast Pass
 
Untunglah rega juga ga rewel buat ngantri, yang ga sabaran malah suami saya haha.. di setiap wahana juga ada petunjuk berapa lama kita antri, hebat yah! Ohya di dalam map juga  ada info mengenai jadwal parade, restoran dan keterangan wahana mengenai batas tinggi badan minimum. Memang ada 3 wahana yang tidak bisa rega naikin, tapi overall kami sangat senang dan puas masuk Disneyland, keren banget sih semuanya! 

Pooh Honey Hunt







Begitu juga dengan para petugasnya ramah2  dan senyum sepanjang hari. Rega juga sempet beli popcorn yang ditaro dalam mainan berbentuk karakter Lightning Mc Queen, banyak juga karakter lucu2 lainnya loh! Menjelang malam, parade karakter2 Disney mulai berkeliling, bagus banget. Sayang atraksi kembang api tidak ditampilkan karena kendala angin yang cukup kencang.



Jam sudah menunjukkan pukul 10 kurang 15, saya masih ada 1 fastpass di wahana Pooh Honey Hunt, beruntung kami masih sempat masuk. Setelah itu kami cepat-cepat menuju pintu keluar untuk mampir di toko souvenir dan sempet beli 1 kaos Donald Duck untuk rega. Pulangnya kami naik kereta lagi dan sampai hotel langsung mandi dan rendem kaki pakai air anget, gemporrrr hahaha..



Parade Malam Hari


Hari 5


Ghibli Museum
Sebetulnya saya tidak kebagian tiket Ghibli via online, padahal saya sudah cek 1 bulan sebelumnya. Saat itu hopeless banget karena ga bisa ke Ghibli, trus saya posting di grup FB, eh saya dibantu oleh teman saya yang punya teman tinggal di Jepang. Dan beruntung sekali, saya dapat tiket Ghibli yang dibeli di Lawson Jepang meski hanya untuk 1 orang, makasih banyak ya mbak! 

Memang sullit sekali dapat tiket Ghibli ini, alternatif lainnya kita bisa ikut tur tapi harganya lumayan mahal, fiuhhh.. saya kebagian jadwal jam 4 sore. Jadi siang harinya kami jalan2 dulu. Kami ke Godzilla Head di Toho Building, Shinjuku terus lanjut beli oleh2 di Don Quijote, gila deh kalap banget disini, haha.. apalagi tas Anello harganya murah banget di Jepang. Mainan Godzilla keren-kerennnn..

Di Depan Godzilla Head










Godzilla stuff, kereennn semuaaa!

Di Depan Don Quijote

Setelah belanja, suami dan anak saya kembali ke hotel sementara saya lanjut naik kereta menuju Ghibli di Mitaka. Sesampainya saya di stasiun Mitaka, saya melihat banyak anak-anak sekolah berjalan memakai tas Nobita, kawai banget!


Temen2nya Nobita

Trus saya lanjut menuju Ghibli museum naik shuttle bus. Bisnya keren banget deh berwarna kuning dan dihiasi karakter2 Ghibli.Sampailah saya di gedungnya, antri sebentar dan langsung menunjukkan tiket yang saya punya

Bis dengan karakter Ghibli


Museum Ghibli
 
Disini kita tidak boleh menggunakan kamera, kecuali bagian luar gedung, bagus ya rulesnya supaya pengunjung bisa lebih menghayati karya2 Hayao Miyazaki, ga melulu foto dan selfie. Gedungnya terdiri 3 lantai, lantai pertama berisi karya2 dan proses pembuatan film yang dulu dibuat dengan cara klasik, amazing banget liatnya! Di lantai 2, ada ruangan yang didekor seperti ruang kerja Miyazaki dan berbagai hasil sketsa gambar beliau dalam berkarya. Kita seolah berada di dalam ruang imajinasinya beliau, gilak sih kerennya! Terus ada ruangan yang saya lihat seperti di film Totoro, bagian dapur rumah tradisional Jepang. Kemudian di lantai 3 ada toko penjualan souvenir dan playgrpund berbentuk Cat Bus yang sayangnya hanya bisa dinaiki anak-anak, huhu.. ada mural di temboknya, bagus banget! Saya kembali ke lantai 1 untuk menonton film pendek berjudul Boro The Caterpillar.

Nonton Boro The Caterpillar

Selesai nonton film saya menuju bagian luar yang terdapat kafe dan robot Lupin berukuran raksasa di bagian Rooftop. 
 
Robot Lupin

Totoro  
 
Jam 6 saya kembali ke stasiun Mitaka, naik bis shuttle lagi, dan  menuju hotel untuk bersisap2 menuju bandara Narita. Sesampainya di Narita, saya makan malam dan lanjut mencari tempat untuk tidur. Ya kami mencari sofa untuk tidur demi menghemat budjet haha.. tapi disini juga ada hostel menginap kok kalo mau yang lebih nyaman. 

Nginep di bandara Narita

Paginya kami bangun dan antri check-in konter AA. Antrian sudah cukup panjang dan lama banget, saya sampe buru2 untuk masuk ke ruang tunggu karena jam boarding uda mepet banget. Saya sampe ga sempet beli mainan gacha yang pake koin dan beli Tokyo banana huhu..

Begitu naik pesawat eh malah masih tunggu penumpanglain yang belum naik, hadeh tau gitu kan saya beli Tokyo banana deh.. perjalanan 7 jam tapi transit bali, rega agak bosan di pesawat karena waktu tempuh yang lama dan tidak ada tv haha.. jadinya ya kami beli jajan selama di pesawat. Overall, trip kami di Jepang sangat menyenangkan, semoga bisa kembali ke Jepang suatu hari nanti!


Yang Lucu Lainnyaaa..
Di sekitaran Shinjuku ada tempat mainan anak-anak yang lucu-lucu, jangan lupa jajan gatcha juga ya, di supermarket juga ada sih mesin mainan putar itu, mayan kan dapet mainan asli dari Jepang heehe...
 
Taito Game Station, hadiahnya dong Tomica, beda bgt ama indonesia hadiahnya permen ahhaha


penyelamat ketika lapar, onigiri isi salmon


jajanannya kek begini, duhh


Kamar Nobita haha.. at Stayto Hotel


Inside Don Quijote